
Apa yang ada dipikiran kawans sekalian ketika mendengar pencalonan Indonesia sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022?. Ya walaupun akhirnya kita tidak mendapat kesempatan itu karena kalah dalam Bidding FIFA, tapi saya yakin banyak komentar baik yang optimis maupun pesimis mengenai "pencalonan" itu. Bagi saya dan saya yakin sebagian dari kawans sekalian agak "terkejut" dengan pencalonan ini. Bagaimana mungkin kita ingin mencalonkan diri sebgai tuan rumah event olahraga paling bergengsi di dunia ini, sedangkan prestasi ditingkat Asia saja, eh salah maksud saya ditingkat Asia Tenggara dalam 10 tahun terakhir tidak dapat kita raih. Ketua PSSI mungkin boleh berbangga dengan suksesnya Indonesia sebagai tuan rumah piala ASIA 2007 (Indonesia dan Malaysia-red). Namun seperti kata Pak Menteri Olahraga Andi Malaranggeng, kesuksesan sebagai tuan rumah sebuah event baik itu event olahraga maupun event lainnya hanyalah kesuksesan sebuah negara dalam mengurus EO (Event Organizer-red), dan yang lebih penting dari semua itu adalah prestasi. Saya juga sangat setuju kata pak Menpora lebih lanjut, bahwa, tidak peduli piala dunia diadakan dimana yang penting keikutsertaan kita dalam event terakbar itu. Kapan kawans, itulah yg masih dlm angan-angin kita semua...
Carut marutnya PPSI , ketidakmampuan pembinaan pemain dan pelatihan, ketiadaan kompetisi usia dini yang berkelanjutan, dan pengaturan skor pertandingan hanyalah sedikit dari sekian banyak persoalan yang melilit tubuh PSSI sekarang. Pemerhati bola dan pecinta bola tentu saja tidak mau tinggal diam dan membiarkan segalanya makin hancur . Untuk itu atas usulan pemerintah dan wartawan sepakbola Konfrensi Sepakbola Nasional akan diadakan di kota Malang tgl 30-31 Maret 2010. Banyak yang menganalisa bahwa KSN ini bertujuan "menggulingkan" ketua umum PSSI Nurdin Halid karena dinilai gagal dalam pembinaan Sepakbola Indonesia. Terlepas benar tidaknya hal ini, kita semua berharap semoga hasil KSN ini tidak hanya dokumen-dokumen diatas kertas yang kemudian dilupakan begitu saja, namun ada tindakan nyata demi kemajuan sepakbola dan sepakbola nasional kita....
Semoga akan ada pr
ogram-program yang lebih memberikan harapan bagi sepakbola indonesia, seperti kompetisi semua umur (U12, U14, U16, U18, U19 dan seterusnya) yang berkelanjutan , bukan program-program instan seperti pelatihan timnas U19 ke Uruguay selama 2tahun yang menghabiskan dana yang tidak sedikit, mendatangkan pemain asing yang terkadang memakan biaya APBD, atau menyewa konsultan asing untuk memenangkan bidding Tuan Rumah Piala Dunia 2022 yang ternyata uang gaji konsultan itu sebesar 2,5M belum dibayarkan PSSI (PSSI masih ngutang, dan pengacara konsultan itu merencanakan akan mengadukan PSSI ke FIFA..nah lo??).. Semoga reformasi PSSI, harapan baru akan perseapkbolaan tanah air tidak hanya sebatas angan-angan belaka. Kita juga ingin Lagu Indonesia raya bergelora di Pentas piala dunia dan burung garuda ada di dada masing-masing pemain timnasDan akhirnya semua kita, seluruh rakyat Indonesia akan yakin, itu semua mungkin.....